Showing posts with label Free Market Music. Show all posts
Showing posts with label Free Market Music. Show all posts

January 02, 2013

Retromania : "Kaca Spion" Musikal, Jalan Buntu atau Plagiarisme ? (2)


Well, secara konklusif, fenomena retromania yang sedang merasuki industri musik tidak terlepas dari kecendrungan konsumen musik itu sendiri. Dengan beberapa alasan, beberapa penikmat musik khususnya remaja ( kalo orang tua ya udah jelas sukanya old items yg populer di zamannya ), mengalami suatu kecendrungan nostalgis yang merindukan suatu atmosfir di mana musik merupakan suatu materi entertaiment yang belum disentuh oleh liberalisasi digital. Ya .. itu cuman analisis umum aja, oleh karena itu sekarang kita dapati bagaimana LP / piringan hitam mulai dibangkitkan kembali menjadi salah satu media rekaman, meskipun masih belum secara massal. Kultur musik masa kini dan medianya yang serba digital rupanya telah meracuni psikologis sebagian penikmat musik untuk go back menuju masa lalu. Tentunya hal ini juga mempengaruhi berbagai elemen entertaiment, termasuk perusahaan rekaman musik yang kini sudah mulai me-retromania. 



    Ya .. menurut ane, secara lebih spesifik, inilah alasan-alasan mereka yang suka musik jadul : 

1. Karakter musik modern ( pasca millenium kedua ) tidak bisa berdialog dengan sebagian penikmat musik masa kini, sehingga mereka mencoba mencari kepuasannya dengan menjarah masa lalu. 


2. Kekhawatiran adanya miss link generasi musik dari masa ke masa yang mendorong mereka kembali menengok ke belakang untuk menghubungkan garis musikal dengan era ini, demi kelestarian kronikal.


3. Kebosanan sebagian penikmat musik dengan liberalisasi digital dalam material musik. Hal ini menyebabkan mereka kembali merindukan kaset pita, LP / piringan hitam, dsb.


4. Semata mata untuk mencari ide musikal di masa lalu untuk dituangkan dalam karakter baru yang lebih kompleks.


5. ( yang parah ) Plagiarisme.


     Kelima alasan di atas adalah sah, kecuali nomor lima, ia merupakan "dosa" dalam alam industri musik yang berimbas pada penumpulan ujung tombak kebudayaan. Untuk alasan pertama, sebut saja musik Indonesia saat ini yang menurutku pribadi cukup memberikan banyak alasan bagi kita untuk ber-retromania dalam beberapa hal. Tapi ya .. karena memang penikmat musik Indonesia mungkin mayoritas merasa cocok dengan karakter smashatau Cherry bell misalnya, jadinya ya di Indonesia gerakan retromania tidak begitu mendapatkan ruang. Kalaupun ada, itu hanya sebagian orang yang memang bener-bener konsen ke musik. 



    Namun dengan dirilisnya LP Those Shocking Shaking Days kemarin tahun 2011 oleh Now Again yang memuat kompilasi lagu rock Indonesia tahun 70-an, benih benih retromania sudah mulai tumbuh. Terbukti dengan menyusulnya LP AKA dan Benny Soebardja &  The Lizard oleh Shadoks Record asal Jerman dan yang lainnya. Sebenarnya tahun 2007 Shadoks sudah merilis Ghede Chokra's dari Sharkmove dan Ariesta Birawa, namun karena arus retromania belum ada, hingga kini kabarnya LP tersebut belum habis terjual. Berbeda dengan LP Benny & The Lizard yang 3 minggu sebelum perilisannya sudah ludes terjual.




        walhasil, retromania memang pedang bermata dua, gerakan maju mundur dalam industri musik sejatinya harus memberikan suatu inovasi positif buat musik kita ( kalo dlm wacana keislaman, jadi teringat double movement-nya Fazlur Rahman, gerakan maju-mundur yang memberikan nuansa baru dalam pemikiran Islam). Bencana terbesar dari retromania adalah maraknya plagiarisme yg menumpulkan ujung tombak kultur musik dan akhirnya musik kita menemui jalan buntu-nya. Namun di saat yang sama, ia merupakan percikan inspirasi tiada henti dari masa lalu untuk diterjemahkan di masa sekarang. That's why ... retromania hendaknya dianggap sebagai "kaca spion" dalam dinamika musik. Dalam artian elemen retro hendaklah dijadikan bahan pertimbangan yang dimasukan di sela-sela penggarapan musik masa kini, baik itu dari konsep musik atau ide liriknya. Tapi jangan keterusan liat kaca spion, tau-tau di depan udah ada mobil yang mau nabrak kita, he..he.., artinya jangan keasyikan recycle zaman purba, tanpa kita tahu di depan ada hal baru yg lebih menarik. Juga jangan saling ngejek antara maniak musik jadul sama yang anti, atau maniak boyband sama yg anti boyband, semua kan tergantung selera masing-masing yg gg bisa dipaksakan...

December 28, 2012

Retromania : "Kaca Spion" Musikal, Jalan Buntu atau Plagiarisme ? (1)


" Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya "                                                                                                                       (Bung Karno, 1961). 

       Sejatinya, kata-kata tersebut terbingkai dalam suatu frame objek forma, yaitu romantisme perjuangan bangsa. Kita yang sekarang hidup pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dihimbau untuk tetap menghargai jasa para pahlawan. Dalam hal ini masyarakat sekarang tidak boleh keasyikan melihat kedepan dengan tidak sedikitpun menengok ke belakang. After all, kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak akan terwujud andaikan tidak ada para pahlawan pendahulu kita yang memperjuangkannya.

    Eits .. kok malah nyambung ke pelajaran sejarah ya, di sini kan tulisan tentang musik.. !. Well, epigraf Bung Karno di atas merupakan konsep kunci wacana retromania dalam industri musik. Jika kita mengamati trend yang berkembang dalam blantika musik secara umum, khususnya pop culture pada abad ini, segera akan kita temui suatu fenomena di mana para insan musik di seluruh belahan dunia kembali me-reverse jenis musiknya menuju elemen musik masa lalu, inilah retromania, term yang pertama kali dipopulerkan oleh Simon Reynold dalam bukunya " Retromania: Pop Culture's Addiction to It's Own Past ". Pada saat yang bersamaan, beberapa material musik jadoel - bahkan sebagian bisa dibilang fosil musik yang udah lama terkubur  - mulai di-recycle kembali oleh berbagai media entertaiment. Tanya kenapa ? ... kayaknya mereka terilhami kata-kata Bung Karno di atas ya, jadinya gini :


Musisi yang besar adalah musisi yang menghargai jasa para pendahulunya "


      Ha .. mungkin karena itulah belakangan Michael Angelo Batio, gitaris tercepat di dunia sekaligus inventor quad dan double guitar itu membuat album " Hands Without Shadows I & II ", yang berisi lagu-lagu tribut rock klasik. So .. dia sudah respect sama Ritchie Blackmore selaku pendhulunya dengan me-recycle Burn-nya Deep Purple (1974) dalam instrumen shredd gitar atau Randy Rhoads dengan menulis Tribute to Randy yang berisi shredder medley Crazy Train dan Mr. Crowley (1980) dan juga gitaris klasik lainnya. Ya .. ini cuman salah satu contoh virus retromania yang ternyata juga hinggap pada gitaris yang didaulat beberapa kali sebagai best shredder of all time oleh beberapa majalah gitar internasional itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh shredder lainnya, seperti Yngwie Malmsteen dengan album-nya Inspiration. 

   Dan akhirnya virus ini pun sampai pula di industri musik Indonesia. Meskipun pada dasarnya embrio retromania memang tidak terlahir secara langsung dari industri dalam negeri, namun akhirnya muncul juga wabah dari luar yang memang sudah terjangit terlebih dahulu. Melalui beberapa label asing, akhirnya beberapa mahakarya "fosil" musik Indonesia yang sekian lama terkubur kembali dibangkitkan. Diawali dengan Shadoks Record, label asal Jerman yang mere-issue Ghede Chokra's dari Sharkmove (1970), Ariesta Birawa (1973) dan Chopin Larung dari Guruh Gipsy (1976) pada tahun 2006-2007. Kemudian diikuti oleh label-label lainnya seperti Now Again, label asal Amerika yang merilis Those Shocking Shaking Days, kompilasi lagu rock terbaik Indonesia dalam rentang waktu 70-78 pada tahun 2011. Lalu ada Stawberry Rain yang merilis album kompilasi AKA dan Benny Soebardja & The Lizard baru baru ini.


Fenomena lainnya yang memang niscaya dan juga turut andil dalam konstruksi retromania adalah tradisi reissues/remake album oleh artis bersangkutan atau atas inisiatif label-label musik dan "pelestarian" kronikal musik jadul di museum-museum musik, seperti rock n roll hall of fame, dll. Untuk media massa, ada majalah Rolling Stones misalnya, suatu majalah yang khusus membincang dinamika musik dari masa ke masa. Dalam list musikal terbaik versi majalah ini, seperti 100 lagu terbaik, 100 gitaris terbaik, 100 album terbaik sepanjang masa dll, segera kita dapati deretan nama-nama klasik yang bertengger di urutan pertama. Untuk 3 besar gitaris terbaik misalnya, ditempati oleh Jimmy Hendrix (R.I.P 1977), Eric Clapton dan Jimmy Page yang seluruhnya memulai karir di pertengahan 60-an. Untuk album terbaik, album Sgt. Peppers Lonely Hearts Club dari The Beatles merupakan album wajib dalam deretan top 3. Embel embel best ... all of time, selalu disematkan kepada mereka, sekilas terkesan seperti menutup pintu kesempatan buat  best .. all of time lainnya. Sepintas, list yang dibuat majalah Rolling Stones ini memang agak lebih kepada pelestarian kronikal dalam dinamika musik.


     Dengan tradisi seperti ini retromania merupakan keniscayaan dari masa ke masa dan memang harus ada atas nama dinamika musik. Namun pada faktanya, oleh para analis musik, retromania yang kini sedang menggejala dianggap telah sampai pada tahap "keterlaluan" dan berimplikasi kepada penumpulan ujung tombak kebudayaan musik. Salah satu indikator klasiknya adalah bahwa LP / piringan hitam yang merupakan media rekaman pertama dalam industri musik sejak awal 20-an, kini mulai digemari kembali oleh insan musik daripada CD atau musik digital dengan seabreg alasan _____


    So ... pertanda apakah ini ? apa yang membuat industri musik kecanduan bernostalgia ?, apakah eksplorasi musikal sudah kehabisan ide ? atau para insan musik sudah berada di ambang kebangkrutan kreatifitas ? .... ??

bersambung ke part 2

M-For Music .. !


          Manusia dan musik merupakan suatu kepaduan yang tidak bisa dipisahkan. Ia dengan sendirinya merupakan asesoris kehidupan sehari-hari manusia sejak dahulu kala – bahkan mungkin menjadi kebutuhan. Bagiku musik adalah simfoni-simfoni yang turut memberi warna ruang kehidupan. Ha .. bagaimana tidak, setiap kali orang berbicara, semua ya pake musik. Musik dialek sunda berbeda dengan musik dialek jawa, minang, madura, batak, dsb. Bayangin kalo semua nada yang ada itu datar, nggak ada variasi ..., so .. life is tasteless. Ya ... manusia dan irama adalah gula dengan rasa manisnya. 

          Pada dasarnya, darahku adalah darah musisi. Jika ditelusuri, kakekku dulu adalah seorang bassis orkes melayu tahun 50-an, ya kalo zaman sekarang namanya band lah. Bahkan sekarang  dia masih bisa memainkan biola lho .....
 Babehku juga seorang gitaris dan bassis orkes dangdut tahun 70-80-an, nyampe sekarang skill  gitarnya boleh dicoba ia juga bisa maen instrumen seruling, kecapi sama piano. Yang lebih sangar lagi, secara historis,kampung tempat aku tinggal adalah kampung musisi. Ha .. sungguh menggelikan ketika mendengar bahwa para sesepuh kampung yang udah pada berkepala enam ternyata dulunya adalah pemusik semua. Ternyata sejak dari dulu kampungku itu emang pusat “ orkes “. Yup .. Bang Haji Oma Irama adalah salah satu buktinya, musisi produksi tasikmalaya,, he..he..

                                                                               
Me and Music                                                                                    
          Sebenarnya ... sejak kelas 3 SD aku sudah bisa maen seruling sunda sama gamelan diajarin sama babeh, piano, gitar, semua aku belajar. But ... the wind has take me away to another realm ..., nyatanya aku “ tersesat “ ke pesantren yang “ mengharamkan " seruling sama gitar, ha ( masih ingat sekali waktu kang Ismail marahin aku yg lagi maen suling nyanyiin sapu nyere pegat simpay.. how nostalgic) .. what a pity. Nyesel ? .. oh .. tidak, justru aku malah bersyukur karena tersesat ke jalan yang benar, meskipun nggak ada bakat jadi ustadz..karena nggak ada dari sananya.. ha..ha...,

          Walhasil, di sela-sela ngehapal al-fiyyah sama yaqulu, aku pun nyempetin diri dengerin Dewa 19, Padi, Scorpions, LP, dst.. the result is .. ?? aku dapet Nilai A pas pelajaran nyanyi di SMP ketika nyanyiin lagunya Broery Marantika.. !! ha.. what a laugh .. !

               Bagiku musik itu ibarat garam yang dipake bikin sayur, kalau takarannya pas ya bikin rasa enak, tapi kalau kebanyakan malah bikin keasinan. Ia bisa menghilangkan stress kaya musik-musik instrumen relaksasi, bisa mengulas memorial, bikin menangis, tertawa, bahkan katanya bisa ngasah otak, kaya musik mozzart atau digunakan bisa terapi kesehatan dsb. Jujur saja, aku suka nangis kalau dengerin lagu “ nahawand “ sama “ hijaz “ ketika ada qori lagi baca Qur’an, apalagi sama H. Rif’at Aby Syahid, qori al-Falah Bandung, beliau adalah salah satu qori terfavorit. Atau aku jga suka nangis tanpa sadar kalau dengerin “ Menjaring Matahari “-nya Ebiet G.Ade, “ Tuhan ”-nya Bimbo, “ Ketika Tangan dan Kaki Berbicara ”-nya Chrisye atau “ We Dont’t Own The World “-nya Scorpions, dsb. Dan ketika aku mendengar “ Send me an Angel “, “ Still Loving You acoustica “ dan “ We’ll Burn The Sky”-nya scorpions, otomatis alam fikiranku terbawa pada ulasan memori masing-masing lagu yang dahulu pernah terjadi ..  it’s called the song ..


Tapi ... di saat yang sama ada juga lagu yang misioner, dia bisa bikin orang emosional, bikin si pendengarnya melakukan apa yang dianjurkan lirik lagunya dan bikin orang gila sekalipun, bahkan bisa bikin orang bunuh diri ...! pernahkah anda lihat video satanisme dan kebudayaan modern yang di-upload oleh Karakoon Film di Youtube ?, Di sana ada beberapa jenis musik yang disebut-sebut sebagai musik satanik yang katanya membawa misi freemason Aleister Crowley, sebut saja masterpiece " Stairway to Heaven " punya Led Zeppelin. Dalam lagu itu ada bagian chorus yang jika di-back ward liriknya malah bercerita tentang satanisme. Atau mungkin pernah dengar lagu “ reverse “-nya Karl Meyer dan “ Gloomy Sunday “-nya Riszo yang bisa bikin orang gangguan jiwa dan bunuh diri ?. Yup .. Ia sejatinya memang pedang bermata dua.____________________________________


     Ya .. sejatinya kita memang harus bijak dan selektif dalam memilih jenis musik. Namun menurutku, masa kejayaan musik yang benar-benar merepresentasikan dirinya sebagai the real art adalah pada masa Baroque, Classical dan Romantic, antara tahun 1600 - 1910-an. Tapi bukan berarti musik era selanjutnya tidak bernilai, bahkan dengan komposisi lirikal yang seimbang dengan instrumental, musik generasi berikutnya menjadi semakin representatif. Namun dalam konteks irama, nada, komposisi instrumental, dan nilai ekspresif, ketiga periode tersebut merupakan masa-masa klimaks. Di sana ada banyak Maestro Musik, sebut saja Ludwig Van Beethoven, Wolfang Amadeus Mozart, Antonio Vivaldi, dll. Simaklah karya Beethoven yang sangat ekspresif dan emosional. Ada yang romantis, halus, melankolis, dan ada juga yang emosional, berapi-api dan menggebu-gebu. Ketika anda mendengarkan moonlight sonata, anda akan dibawa kepada alam cahaya bulan yang mahaindah. Ketika mendengar Symphony no. 5, anda akan menyusuri alam kehidupan manusia dengan segala hiruk-pikuknya. Bagi anda yang suka romantis dan harmonis, dengarkanlah Pires Dumay-nya Mozart yang komposisinys sarat akan atmosfir keharmonisan._______________________________________________
  


     Hal yang juga tak kalah penting, musik merupakan salah satu media ekspresi manusia dalam mengapresiasi kehidupannya. Dengarkanlah Moonlight Sonata yang terlahir dari apresiasi Beethoven akan cahaya bulan yang sering ia pandangi di waktu malam. Melalui hal semacam ini kita akan sampai pada suatu titik di mana manusia itu adalah SATU ! sebagai makhluk Tuhan yang pada dasarnya adalah harmonis dan romantis, meskipun pada fakta objektifnya memang terdapat banyak kesenjangan antara kenyataan ( das sein ) dan harapan ( das sollen), sehingga muncullah kebencian, kejahatan, perang, dll. Melalui musik semacam ini, aku termasuk orang yang berkeyakinan kuat bahwa sejatinya, manusia pada dasarnya adalah cinta. Pada hakikatnya, alam nurani manusia tertuju pada satu titik yang sama, yakni keharmonisan, hanya orang yang sakit jiwa saja yang nuraninya tertuju pada kejahatan. Melalui karya-karya Beethoven misalnya yang pada waktu itu masih marak perang antar bangsa, dapat kita temui bagaimana luapan-luapan emosional manusia yang berharap akan kedamaian dan ketentraman di tengah hiruk-pikuk dan gegap gempita alam kehidupan ini. Musik semacam inilah yang menghimpun cita, rasa, dan luapan-luapan kemanusiaan lainnya.

          

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons